Rabu, 10 April 2019

Penyusunan Asesmen Bahasa Nontes


            Asesmen nontes sering juga disebut dengan asesmn otentik. Asesmen otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentag perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah benar-benar dikuasai dan dicapai. 
 
a.      Penyusunan asesmen kinerja (Performance assessment)
Asesmen kinerja/untuk kerja (performance assessment) adalah suatu penilaian yang meminta siswa untuk mendemonstrasikan dan kriteria yang diinginkan. Asesmen kinerja selalu melibatkan siswa di dalam megaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam praktik kehidupan mereka sehari-hari. Asesmen kinerja digunakan untuk kompetensi yang berehubungan dengan praktik. Asesmen kinerja dalam berbahasa pada umumnya berupa penyajian lisan seperti keterampilan bercerita, berpidato, baca puisi dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan aktifitas berbahasa.
Dalam mengevaluasi penilaian asesmen kinerja tersebut setidaknya ada tujuh kriteria seperti yang dibuat Popham (1995: 147) kriteria tersebut adalah 1)generability 2)authenticity 3) multiple foci  4) teachability 5) fairness 6)feasibility 7) scorability.
Sedangkan langkah-langkah dalam melakukan penilaian kinerja adalah sebagai berikut: (1) Identifikasi langkah penting (2) tuliskan kemampuan-kemampuan khusus (3) Tuliskan kemampuan yang akan dinilai yang dapat teramati dalam suatu format peniaian, (4) urutkan kemampuan yang akan dinilai (5) sediakan instrumen dan rubrik penilaian.
 
b.      Penyusunan asesmen portofolio (portofolio assessment)
Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa yang menunjukkan atau mempertlihatkan hasil pemikiran mereka, minat, hasil usaha, tujuan dan cita-cita mereka berbagai aspek. Di antara bahan yang digunakan dalam penilaian portofolio di sekolah antara lain sebagai berikut: a) penghargaan tulis yang relevan dengan mata pelajaran b) hasil kerja biasa yang relevan dengan mata pelajaran, c) hasil pelaksanaan tugas-tugas sehari-hari oleh siswa, d) catatan sebagai peserta dalam suatu kerja kelompok, e) contoh hasil pekerjaan, f) catatan atau laporan dari pihak lain yang relevan, g) daftar kehadiran siswa, h) hasil tujuan atau tes, dan i) catatan-catatan nengatif (misalnya peringatan) tentang siswa. Dalam bidang bahasa indonesia, karya yang cocok untuk dinilai dengan portofolio adalah puisi, karangan, gambar/tulisan, peta/denah, dan sebagainya. 
 
c.       Penyusunan asesmen proyek (project assessment)
Proyek merupaka tugas yang harus diselesaikan siswa dalam periode waktu tertentu. Tugas tersebut berupa investigasi sejak dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Sebelum kegiatan penilaian proyek dilakukan guru hendaknya perlu melakukan perencanaan penilaian. Dalam kegiatan tersebut perlu dipertimbangkan keampuan pengelolaan. Jika siswa diberi kebebasan yang luas, mereka akan mendapatkan kesulitan dalam memilih topik yang tepat.
Dalam tahap perencanaan dan pembuatan spesifikasi proses suatu proyek, guru hendaknya melakukan hal-hal seperti berikut: a) pemilihan topik, b) pembuatan diagram topik yang akan diinvestigasi, c) pembuatan rincian terhadap tahapan proses, d) monitoing terhadap kerja proyek, e) membuat pertimbangan dan catatan, f) penilaian yang dilakukan oleh siswa sendiri, g) penilaian antar kelompok mahasiswa, h) penilaian yang dilakukan oleh guru, i) pendugaan dan pelaporan prestasi, j) membuat perkiraan yang seimbang, k) mengombinasikan bukti proyek dengan bukti lain, l) memonitoring perkembangan keterampilan pada lintas bidang pembelajaran.
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proek. Untuk itu, guru perlu menetapka hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan desain, mengumpulkan data, analisis data, dan menyiapkan laporan tertulis. Pelaksnaan penilaian dapat menggunaka alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. 
 
d.      Penyusunan asesmen diri (self assessment)
Asesmen diri adalah suatu jenis asesmen yang meminta peserta didik untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan tugas, status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Asesmen diri meliputi tiga proses dimana regulasi diri siswa mengamati dan menafsirkan perilaku dirinya. Pertama, siswa menghasilkan observasi sendiri yang berfokus pada aspek kinerja khusus yang relevan dengan standar kesuksesan. Kedua, siswa membuat pertimbangan sendiri dengan menentukan bagaiamana kompetensi dapat dikuasai. Ketiga, siswa melakukan reaksi diri, menafsirkan tingat pencapaian tujuan, dan menghayati kepuasan hasil reaksi dirinya. Assesmen diri berkontribus terhadap kepercayaan keberhasilan diri, yaitu persepsi kemampuan siswa terhadap kinerja yang diperlukan dalam tugas-tugas kesuksesan.
 
e.       Penyusunan asesmen sejawat (peer assessment)
Merupakan salah satu bentuk asesmen, dimana siswa dapat saling memberikan penilaian. Hasil penilaian sejawat dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai salah satu informasi penentuan keberhasilan siswa. Selain itu hasil penilaian teman sejawat dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan untuk menyempurnakan suatu karya siswa. Dengan demikian, penilaian sejawat bertujuan untuk mengukur kompetensi yang dimiliki teman sejawat dan dapat pula untuk memberikan kepada teman sejawat. 
 
f.       Penyusunan asesmen produk (product assessment)
Penilaian hasil kerja siswa merupakan penilaian terhadap penguasaan siswa akan suatu keterampilan dalam membuat suatu hasil kerja dan kualitas hasil kerja siswa. Terdapat dua konsep penilaian, yaitu penilaian siswa tentan pemilihan pekerjaan dan cara penggunaan alat dan prosedur kerja. Juga merupakan penilaian terhadap kualitas teknis ataupun suatu hasil karya.
Perkembangan produk meliputi 3 tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu:

1.      Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.
2.      Tahap pembuatan produk (proses) meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
3.      Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
Dalam bidang bahasa, hasil kerja siswa yang dapat dinilai dengan penilaian produk adalah kumpulan puisi, cerpen, nove, buku, karya tulis dan sebagainya.
 
g.      Penyusunan asesmen sikap
Sikap merupakan ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadina perilaku atau tindakan yang diinginkan. Dengan adanya pengembangan penanaman pendidikan karakter yang tidak lain adalah penanaman sikap peserta didik.
Berdasarkan kajia nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum etika akademik. Prinsip-prinsip HAM, telah diidentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan menjadi lima, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan (1) Tuhan Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sesama manusia, (4) lingkungan, serta (5) kebangsaan.

Kamis, 04 April 2019

PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA



1. PENDEKATAN

    Beberapa pendekatan dalam pembelajaran bahasa pada prinsipnya dapat digunakan untuk pengajaran bahasa Indonesia atau bahasa lainnya, yaitu sebagai berikut: pendekatan tradisional, pendekatan fungsional, pendekatan integral, pendekatan sosiolinguistik, pendekatan psikologi, pendekatan psikolinguistik, dan pendekatan pengelolaan kelas. Empat buah pendekatan mutakhir yang perlu diketahui dan dikuasai oleh para pengajar, yaitu sebagai berikut: pembelajaran bahasa masyarakat, pendekatan respons fisik total, pendekatan alamiah, dan pendekatan diam.
a.      Pendekatan Formal
Semi (1993) menyatakan bahwa pendekatan formal merupakan pendekatan klasik dan tradisional dalam pembelajaran bahasa. Pendekatan formal dipakai dalam dua metode pembelajaran bahasa yaitu:
Metode terjemahan tatabahasa mengutamakan pemberian pola-pola tatabahasa dengan menerjemahkan contoh-contoh pemakaiannya. Metode membaca. Metode ini menggunakan bahasa tulis sebagai sarana belajar bahasa sehingga analisis dilakukan melalui teks bacaan yang akhirnya bisa menimbulkan kebosanan.

b. Pendekatan Fungsional
Peserta didik langsung menghadapi bahasa yang hiduo dan mencoba memakainya sesuai dengan keperluan komunikasi. Lebih jauh ia mengutarakan bahwa pendekatan ini memunculkan berbagai metodr mengajar bahasa, antara lain: metode langsung, metode intensif, metode audio-visual, metode linguistik.

c. Pendekatan Integral
Menurut Semi (1993) pendekatan integral menganut pengertian bahwa pengajaran bahasa harus merupakan sesuatu yang multidimensional. Artinya banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengajaran.
d. Pendekatan Sosiolinguistik
Pendekatan pengajaran bahasa yang memanfaatkan hasil studi sosiolinguistik adalah pendekatan sosiolinguistik. Semu (1993) menyatakan bahwa pendekatan sosiolinguistik ini adalah studi tentang hubungan gejaka masyarakat dengan gejala bahasa.
e. Pendekatan Psikologi
Semi (1993) mengemukakan bahwa pendekatan psikologi bahasa berkaitan dengan ilmu yang menelaah bagaimana peserta didik belajar, dan bagaimana peserta didik sebagai individu yang kompleks.
f. Pendekatan Psikolinguistik
Teori ini beranggapan bahwa keberhasilan belajar seseorang sangat ditentukan oleh faktor luar atau faktor eksternal. Skinner, seorang tokoh behaviorisme, mengemukakan bahwa proses belajar bahasa sama saja dengan mempelajari sesuatu yang nonbahasa, yaitu melalui mekanisme stimulus respons dan ditambah dengan penguatan.
g. Pendekatan Behavioristik
Pendekatan ini dipelopori oleh Skinner pada sekitar tahun 1957. Pringgawidagda (2002) mengetenghkan bahwa pendekatan behavioristik dapat dikendalikan dari luar, yaitu dengan stimulus respons. Perkembangan kematangan berbahasa tergantung pada frekuensi atau lamanya latihan. Belajar bahasa dengan cara peniruan atau tubian merupakan teknik utama pendekatan behavioristik.
h. Pendekatan Pengelolana Kelas
Pendekatan ini memerlukan ketegasan dari pengajar. Tidak semua mengajar dengan mudah melakukan pendekatan ini. Tidak sedikit pengajar yang mengaplikasikan pendekatan ini namun mereka tidak memberikan batasan sebagai sebuah pendekatan otoritern, dan lebih menyukai terminologi pendekatan 'tegas'
2. METODE 
Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (KBBI, 1995). Berikut beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa, yaitu metode terjemahan tatabahasa, metode membaca, metode audio-lingual, metode reseptif dan produktif, metode langsung, metode komunikatif, metode integratif, metode tematik, metode kuantum, metode konstruktivistik, metode partisipatori, metode kontekstual, metode pembelajaran bahasa komunitas, metode respons fisik total, metode cara diam, dan metode sugestopedia.
3. TEKNIK
Teknik adalah cara sistematis mengerjakan sesuatu (KBBI, 1995). Teknik merupakan suatu kiat, siasat, atau penemuan yang digunakan unyuk menyelesaikan serta menyempurnakan suatu tujuan langsung. Teknik harus konsisten dengan metode. Oleh karena itu, teknik harus selaras dan serasi dengan pendekatan.
4. TEKNIK PENYAJIAN PELAJARAN
Roestiyah (2001) mengemukakan:
“Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh pengajar atau instruktur. Pengertian lain ialah sebagai teknik penyajian yang dikuasai pengajar untuk mnegajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas agar pelajarn tersebut dapat ditangkap, dipahami, dan digunakan oleh peserta didik dengan baik.”
Macam-macam teknik penyajian itu adalah teknik penyajian diskusi, kerja kelompok, penemuan, simulasi, unit teaching, sumbang saran, inquiry, eksperimen, demonstrasi, karya wisata, kerja lapangan, cara kasus, cara sistem regu, latihan tubian (drill), dan ceramah.

Kamis, 28 Maret 2019

Pengertian dan Klasifikasi Strategi Pembelajaran Bahasa

        Strategi adalah ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. Yang dapat diangap berkaitan langsung dengan perngetian strategi dalampengajaran bahasa ialah bahwa strategi merupakan rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.

            Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Proses belajar itu terdiri atas tiga tahapan, yaitu tahapan informasi,transformasi,dan evaluasi. Yang dimaksud dengan informasi adalah proses penjelasan, penguraian, atau pengarahan mengenai prinsip-prinsip stuktur pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Trnasformasi adalah proses pengalihan atau perpindahan prinsip-prinsip struktur tadi kedalam diri anak. Proses transformasi itu melalui infomasi. Namun, informasi itu harus dianalisis, diubah taua ditransformasikan kedalam bentuk yan lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan dalam tataran yang lebih luas. Dalam hal ini, perannan dan bantuan mengaar sangat diperlukan. 

            Sebagai contoh, strategi pembelajaran bahasa indonesia yaitu pola keterampilan pembelajaran yang dipilih dosen atau pengajar untuk melaksanakan program pembelajaran keterampilan berbahasa indonesia. Penciptaan suasana pembelajaran yang baik memungkinkan peserta didik melakukan aktifitas mental dan intelektual secara optimal untuk mencapai tujuan keterampilan berbahasa indonesia yang terdiri atas keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. 

            Salah satu tugas pengajar dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakannya. Hal ini berimplikasi bahwa seseorang pengajar harus memahami dan menguasai berbagai jenis stratrgi pembelajaran. Berdasarkan komponen-komponen yang terdapat dalam proses pembelajaran (kompponen tujuan pengajaran, pengajar, peserta didik, media pembelajaran, materi pembelajaran, metode pengajaran,  dan faktor administrasi), strategi pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan komponen yang maendapat tekanan dalam pengajaran. Berdasarkan hal itu dapatdibedakan strategi pembelajaran yang berpusat pada pengajar, berpusat pada peserta didik, dan berpusat pada materi pengajaran. Disamping itu, kegiatan juga berdasar pada engolahan pesan atau materi. Berdasarkan kegiatan itu, strategi pembelajaran dapat dibedakan atas strategi pembelajaran ekspositoris dan strategi pembelajaran heoristik atau kurioristik. Berdasarkan cara pengolahan atau cara memproses pesan atau materi, dapat dibagi atas strategi pembelajaran deduksi dna strategi pembelajaran induksi. Berdasarkan cara memproses penemuan, strategi pembelajaran dapat dibedakan atas strategi pembelajaran ekspositoris dan penemuan (discovery). 

            Dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam menjalakan tugasnya itu sangat dipengaruhi oleh pendekatan pengajar terhadap pendidikan. Sebuah strategi pembelajaran yang dipilih dengan pendekatan tertentu memerlukan seperangkat metode atau teknik penyajian tertentu untuk melaksanakannya. Selanjutnya, untuk melaksanakan teknik penyajian itu diperlukan pula seperangkat keterampilan yang relevan. 

            Setiap strategi pembelajaran dan teknik penyajiannya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga strategi pembelajaran yang paling tepat untuk setiap mata pelajaran dan peserta didik sukar untuk ditemukan. Begitu pula, akan sangat sukarmenggunakan salah satu teknik penyajian pelajaran secara murni. 

            Sebuah strategi pembelajaran dikatakan baik bila sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan pengajar, dengan peserta didik, serasi dengan besarnya kelompok,sesuai dengan waktu pelaksanaannya, dan didukung oleh fasilitas atau media pendidikan yang tersedia. 

            Dari beberapa penjelasan terdahul dapat diambil kesimpulan bahwa strategi belajar metakognitif, dan sosio afektif menurut O’Malley dkk. Meliputi aspek seperti advence organizer,perhatian yang diarahkan, perhatian terpilih, management diri sendiri, perencanaan fungsional, monitor diri sendiri, produksi tertunda, dan evaluasi diri. 

            Sedangkan beberapa kegiatan yang masuk strategi kognitif adalah pengulangan, sumber,penerjemahan, pengelompokkan, pencatatan, deduksi, kombinasi kembali, pembayangan, representasi pendengaran, kata kunci, kontekstualisasi, elaborasi, transfer, dan infrensi. 

            Yang berkenaan dengan komponen-komponen yang terdapat dalam proses pembelajaran, kriteriannya dapat diklasifikasikan berdasarkan tahapan komponen yang mendapat tekanan dalam program pembelajaran, kegiatan pengolahan pesan atau materi, cara pengolahan/memproses pesan atau materi; dan cara memproses penemuan. 

            Strategi pembelajaran dapat dikelompokkan berdasarkan komponen yang mendapat tekanan atau diutamakan dalam program pengajaran. Dalam hal ini, dikenal 3 macam strategi pembelajaran, yaitu strategi pembelajaran yang berpusat pada pengajar, strategi yang berpusatpada peseta didik, dan strategi yang berpusat pada materi pengajaran. 

            Berdasarkan jenis kegiatan pengolahan pesan atau materi maka strategi pembelajaran dapat dibedakan dalam dua jenis: strategi pembelajaran ekspositoris; pengajar megolah secara tuntas pesan atau materi sebelum  disampaikan dikelas sehinga peserta didik tinggal menerima saja, dan strategi pembelajaran heuristik dan furioristik; peserta didik mengolah sendiri pesan atau materi dengan pengarahan dari pengajar. 

            Strategi pembelajaran dapat pula dilihat dari cara pengolahan atau memproses pesan atau materi. Dari segi ini, strategi pembelajaran dapat dibedakan dalam dua jenis: stategi pembelajaran deduksi; pesan diolah mulai dari umum menuju kepada hal khusus, dari hal-hal yangabstrak kepada hal-hal  yang konkret, darikonsep-konsep yang abstrak kepada contoh-contoh yang konkret, dan strategi pembelajaran induksi; pengolahan pesan yang dimulai dari hal-hal khusus, dari peristiwa-peristiwa yang bersifat individual menuju generalisasi, dari pengalaman-pengalaman empiris individual menuju kepada konsep yang bersifat umum.  

Rabu, 27 Maret 2019

Asesmen Keterampilan Berbahasa dan Bersastra

  • ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA
1.  Asesmen Keterampilan Mendengarkan

            Mendengarkan merupakan kemampuan yang memungkinkaan seorang pemakai bahasa untuk memahami bahasa secara lisan. Kemampuan mendengarkan terkait dengan kemampuan untuk memahami makna suatu bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan. Asesmen mendengarkan lebih banyak diarahkan pda kemampuan untuk memahami makna suatu bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan.
Tingkatan asesmen kemampuan mendengarkan dapat digolongkan atas: a). Asesmen mendengarkan tingkat ingatan b.) Asesmen mendengarkan tingkat pemahaman c.) Asesmen mendengarkan tingkat penerapan d.) Asesmen mendengarkan tingkat analisis e.)  Asesmen mendengarkan tingkat sintesis. f.)  Asesmen mendengarkan tingkat evaluasi

            Beberapa bentuk asesmen mendengarkan yaitu 1) identifikasi peristiwa atau kejadian; 2) identifikasi tema cerita; 3) identifikasi topik percakapan; 4) menjawab pertanyaan wacana; 5) merumuskan inti wacana; 6) menceritakan kembali.

2.  Asesmen Keterampilan Berbicara
           Berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Kemampuan berbicara menuntut penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa. Bentuk-bentuk asesmen berbicara yaitu 1) berbicara singkat berdasarkan gambar; 2) wawancara; 3) menceritakan kembali; 4) pidato/berbicara bebas; 5) percakapan terpimpin; 6) diskusi.

3.  Asesmen Keterampilan Membaca

            Membaca merupakan suatu proses yang meliputi proses fisik dan psikologis. Yang menjadi tujuan pokok dari pelajaran membaca dalam pembelajaran bahasa adalah kemampuan memahami isi bacaan. Taksonomi membaca dibagi menjadi:

1)  Membaca literal meliputi pengetahuan dan pemahaman
2)  Membaca interpretatif meliputi terapan.
3)  Membaca kreatif/kritis meliputi analisis, sintesis, dan evaluasi.

            Beberapa bentuk pengukuran kemampuan membaca yang dapat digunakan guru yaitu a) tes “Cloze”; b) membaca sekilas; c) membaca teknik; d) menjawab pertanyaan bacaan; e) meringkas isi bacaan; f) kritik terhadap tulisan.

4.  Asesmen Keterampilan Menulis

            Menulis merupakan aktivitas pengekspresian ide, gagasan, pikiran, atau perasaan ke dalam lambang-lambang kebahasaan. Dalam menulis dilibatkan berbagai aspek kebahasaan yang meliputi: penggunaan tanda baca dan ejaan, penggunaan diksi, penataan kalimat, pengembangan paragraf, pengolahan gagasan, dan pengembangan model karangan. Bentuk-bentuk asesmen kemampuan menulis: 1) tes unsur-unsur kemampuan menulis; 2) menulis reproduksi; 3) menulis produksi.

  • ASESMEN ASPEK KESASTRAAN
            Asesmen penguasaan aspek kesastraan dapat disusun secara bertingkat mulai dari tingkat ingatan sampai dengan evaluasi. Penilaian unjuk kerja kesastraan siswa sebagai hasil pembelajaran juga dilakukan lewat keempat kemampuan bahasa tersebut, baik secara aktif-reseptif maupun aktif-produktif.

1.  Asesmen Keterampilan Mendengarkan

            Kemampuan mendengarkan adalah kemampuan memahami gagasan pihak lain yang disampaikan lewat suara, baik langsung maupun tidak langsung lewat media tertentu. Untuk keperluan ini, siswa harus benar-benar diberi tugas untuk mendengarkan tuturan bahasa, entah yang berwujud penuturan langsung ataupun penuturan lewat media elektronika tertentu, kemudian diminta untuk menampilkan hasil pemahamannya dengan mempergunakan indikator-indikator tertentu.

2.  Asesmen Keterampilan Berbicara

            Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan kepada pihak lain secara lisan. Untuk keperluan ini, siswa harus benar-benar diminta untuk menampilkan kemampuan apresiasi sastranya secara lisan. Tugas ini dapat dilakukan misalnya dengan cara mengungkapkan atau menceritakan kembali secara lisan isi teks sastra yang diperdengarkan dan atau yang dibaca dan kemudia diikuti tugas berdiskusi.

3.  Asesmen Keterampilan Membaca

            Kemampuan membaca adalah kemampuan memahami gagasan pihak lain yang disampaikan lewat tulisan. Untuk keperluan ini, siswa harus benar-benar diminta membaca, memahami, dan kemudian menunjukkan hasil pemahamannya terhadap teks-teks kesastraan dengan mempergunakan indikator-indikator tertentu. Pelaksanaan asesmen kemampuan membaca dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran dan dilakukan secara khusus yang senaja dirancang untuk maksud itu.

4.  Asesmen Keterampilan Menulis

            Kemampuan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan kepada pihak lain secara tertulis. Untuk menulis sebagai tugas tes kesastraan, siswa jyga harus benar-benar diharuskan menulis. Secara umum ada dua macam tugas menulis yang dapat diberikan, yaitu (1) menulis sebagai hasil tanggapan terhadap teks-teks kesastraan, dan (2) menulis kreatif.




Mengenal Chipset yang Sering Digunakan di Smartphone saat ini.

    Chipset merupakan sebuah komponen penting bagi Smartphone dan penggunanya. Banyak pengguna Smartphone yang pilih-pilih terlebih da...